Maungpersib.com – Timnas Indonesia menorehkan sejarah baru dalam perjalanan mereka menuju Kualifikasi Piala Dunia 2026. Perjalanan ini tidak hanya memunculkan kejutan di atas lapangan, tetapi juga membawa dampak besar di luar lapangan, yakni pemecatan pelatih-pelatih lawan. Dari Philippe Troussier hingga Branko Ivankovic, sederet nama besar harus angkat kaki dari posisinya usai timnya ditekuk oleh skuad Garuda.
Berikut ini adalah ulasan lengkap mengenai empat pelatih yang harus kehilangan jabatannya setelah bertemu Timnas Indonesia dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Kisah ini tak hanya soal kemenangan dan kekalahan, tapi juga tentang perubahan besar dalam dinamika sepak bola Asia.
Peningkatan Drastis Timnas Indonesia,Dari Posisi 173 ke 118 FIFA
Saat Shin Tae-yong mulai menangani Timnas Indonesia pada Februari 2020, tim Garuda berada dalam kondisi yang sangat terpuruk. Peringkat FIFA Indonesia saat itu adalah 173 dunia terendah di antara semua peserta Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Namun, pelatih asal Korea Selatan ini membuktikan bahwa dengan proses yang konsisten dan pendekatan strategis yang matang, Indonesia bisa bangkit.
Hingga Mei 2021, posisi tersebut tidak banyak berubah. Namun, perlahan tapi pasti, performa Timnas membaik secara signifikan, mulai dari level U-19, U-23, hingga senior. Ketika Shin Tae-yong resmi dipecat pada 6 Januari 2025, Indonesia sudah naik ke peringkat 127 dunia, menandakan lompatan besar dalam lima tahun kepemimpinannya.
Setelah itu, tongkat estafet diberikan kepada legenda sepak bola Belanda, Patrick Kluivert, yang melanjutkan momentum tersebut dan membawa Indonesia ke peringkat 118 FIFA pada pertengahan 2025.
1. Philippe Troussier, Korban Pertama dari Vietnam
Pelatih asal Prancis, Philippe Troussier, menjadi korban pertama dari kebangkitan Timnas Indonesia di bawah Shin Tae-yong. Pertemuan antara Indonesia dan Vietnam terjadi di putaran kedua Kualifikasi Piala Dunia 2026. Dalam dua pertemuan kandang dan tandang, Timnas Indonesia menang dengan skor 1-0 dan 3-0, sebuah hasil yang mengejutkan banyak pihak.
Vietnam yang sebelumnya dianggap sebagai kekuatan Asia Tenggara harus menerima kenyataan pahit, tidak hanya kalah agregat 4-0 dari Indonesia, tapi juga kehilangan pelatih kepala mereka. Federasi Sepak Bola Vietnam tak menunggu lama dan langsung memutuskan kerja sama dengan Troussier usai kekalahan telak tersebut. Philippe Troussier pernah menukangi Jepang dan menjadi salah satu pelatih asing termahal di ASEAN. Namun, semuanya berakhir singkat karena kekalahan dari rival regional, Indonesia.
2. Roberto Mancini, Legenda Italia Tersandung di Riyadh
Nama besar berikutnya yang harus meninggalkan pos karena hasil buruk melawan Indonesia adalah Roberto Mancini. Pelatih yang membawa Italia menjuarai Euro 2020 itu resmi menukangi Timnas Arab Saudi sejak 2023. Di bawah asuhannya, Arab Saudi tampil cukup baik… hingga bertemu Indonesia. Dalam laga putaran ketiga, Arab Saudi ditahan imbang oleh Indonesia dengan skor 1-1. Bagi Indonesia, hasil ini adalah pencapaian besar.
Namun, untuk negara sekelas Arab Saudi, hasil itu dianggap kegagalan. Tak lama setelah hasil tersebut, Mancini mendapatkan tekanan besar dari media lokal dan fans, yang pada akhirnya memaksa Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF) untuk mencari pelatih baru. Meskipun tidak dipecat secara langsung setelah pertandingan, hasil imbang melawan Indonesia menjadi pemicu utama berakhirnya era Mancini di Riyadh.
3. Graham Arnold, Akhir Masa Keemasan Bersama Australia
Pelatih ketiga yang menjadi korban dari ketangguhan Timnas Indonesia adalah Graham Arnold, arsitek utama Timnas Australia. Arnold dikenal sebagai pelatih yang membawa stabilitas dan kejayaan bagi The Socceroos dalam beberapa tahun terakhir. Namun, segalanya berubah usai pertandingan melawan Indonesia di Jakarta.
Dalam laga kandang Indonesia tersebut, Australia dipaksa bermain imbang yaitu 0-0, hasil yang mengejutkan mengingat perbedaan peringkat FIFA dan pengalaman internasional kedua tim. Hasil itu memperkecil peluang Australia untuk lolos langsung ke babak selanjutnya. Meski Federasi Sepak Bola Australia belum secara resmi memecat Arnold, tekanan media dan publik meningkat tajam. Banyak yang menilai bahwa hasil melawan Indonesia adalah titik nadir karier Arnold bersama tim nasional.
4. Branko Ivankovic, Terhenti oleh Taktik Kluivert
Nama terakhir dalam daftar ini adalah Branko Ivankovic, pelatih Timnas China yang akhirnya harus kehilangan jabatannya usai di kalahkan Indonesia. Laga antara Indonesia dan China terjadi pada 5 Juni 2025, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Hasilnya? Indonesia menang tipis 1-0 berkat taktik jitu dari Patrick Kluivert.
Kekalahan tersebut terbukti menjadi titik balik yang krusial. Meskipun lima hari setelahnya Ivankovic masih memimpin China menang melawan Bahrain, keputusan Federasi Sepak Bola China (CFA) sudah bulat. Branko Ivankovic di pecat karena gagal membawa China lolos ke putaran keempat.
Branko Ivankovic merupakan pelatih berpengalaman yang pernah membawa Iran ke Piala Dunia 2006 dan sukses di level klub Asia. Kekalahan dari Indonesia memupuskan harapannya membawa China kembali ke panggung dunia.
Baca juga: Paes vs Audero: Duel Sengit Rebut Posisi Kiper Utama
Masa Depan Patrick Kluivert dan Potensi Korban Selanjutnya
Patrick Kluivert memang baru beberapa bulan menangani Timnas Indonesia, tetapi sudah menunjukkan tajinya dengan satu “korban” besar di tangan Ivankovic. Kinerja impresif ini membuat publik sepak bola Asia mulai mewaspadai Indonesia, bukan lagi sebagai kuda hitam, tetapi sebagai tim dengan ancaman nyata.
Kualifikasi Piala Dunia 2026 masih berlanjut ke putaran keempat, yang akan di selenggarakan di Arab Saudi dan Qatar pada Oktober 2025. Indonesia kemungkinan besar akan berjumpa dengan tim-tim kuat lainnya seperti:
- Hervé Renard (Arab Saudi)
- Julen Lopetegui (Qatar)
- Cosmin Olăroiu (UEA)
- Pelatih baru Irak, pengganti Graham Arnold
Jika tren Indonesia dalam “mengorbankan” pelatih lawan berlanjut, tak menutup kemungkinan akan ada lagi pelatih-pelatih top dunia yang tersandung akibat hasil melawan skuad Garuda.
Indonesia Bukan Lagi Underdog
Transformasi Timnas Indonesia dari tim lemah menjadi ancaman nyata di kancah Asia adalah bukti nyata efektivitas strategi jangka panjang. Baik di bawah Shin Tae-yong maupun Patrick Kluivert, Indonesia tidak hanya mencatat hasil positif, tetapi juga membawa dampak besar terhadap peta persaingan sepak bola Asia. Transformasi ini juga berdampak pada mentalitas para pemain dan semangat suporter di seluruh negeri.
Kepercayaan diri yang tumbuh seiring prestasi membuat Timnas Indonesia kini tampil lebih disiplin, kompak, dan tak gentar menghadapi lawan mana pun. Tak lagi hanya fokus di level ASEAN, kini target mereka adalah menembus panggung dunia. Dengan kombinasi strategi tajam, regenerasi pemain, dan kepemimpinan pelatih berkualitas, Garuda sedang membangun fondasi untuk menjadi kekuatan baru Asia.
Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia bukan hanya akan lolos ke Piala Dunia, tapi juga mampu bersaing sejajar dengan raksasa Asia lainnya. Dengan empat pelatih sudah menjadi “korban” performa Timnas Indonesia, satu pesan menjadi jelas, Jangan remehkan Garuda. Mereka tidak lagi hanya datang untuk berpartisipasi, mereka datang untuk menang, dan membawa perubahan.

