Profil Si Keren: Dedi Kusnandar (Dado Persib)  Si MidFielder Kece

Maungpersib.com | Bro, kamu kenal ga sama sosoknya Dedi Kusnandar atau yang sering disebut sebagai Dado Persib? Nih, kita kasih bocoran dikit tentang si ganteng ini. Dia jadi pembicaraan di jagad bola karena skill-nya yang nggak main-main di lapangan. Jadi, mari kita kupas habis profilnya!

Nama: Dedi Kusnandar

Jadi, nama lengkapnya itu Dedi Kusnandar. Gak usah ditanya lagi, dia emang keren!

Posisi di Lapangan: MidFielder

Dedi Kusnandar nih, dia jago main di tengah lapangan, alias MidFielder. Skillnya ngelewatin lawan kayak ngelewat portal aja!

Nomor Jersey: 11

Nomor jersey yang nempel di badannya itu angka 11. Cuma 1 angka tapi kalo dia yang pake, jadi terasa beda!

Tempat dan Tanggal Lahir: Sumedang, 22 Juli 1991

Dia lahir di kota Sumedang, tanah kelahirannya. Tanggal keberuntungan buat dia adalah 22 Juli 1991. Pernah kepikiran ga, hari ulang tahunnya itu pasti pesta keren abis!

Berat: 76 kg

Berat badannya 76 kg. Udah kebayang dong, kalo dia ngegiring bola pasti kaya gajah yang lincah!

Tinggi: 172 cm

Tingginya 172 cm. Gak terlalu tinggi, tapi di lapangan, dia tinggi banget dalam hal skill!

Kewarganegaraan: Indonesia

Ini penting, bro. Dedi Kusnandar adalah anak bangsa Indonesia, bangga deh!

Yoi, gitu deh gambaran singkatnya tentang Dedi Kusnandar. Sosok yang punya bakat alamiah di lapangan hijau dan jadi idola buat banyak orang. Siap-siap terpesona sama aksi-aksi gemilangnya yang keren abis!

Dedi Kusnandar: Perjalanan Menuju Impian Bersama PERSIB

Menjadi bagian dari tim besar seperti PERSIB bukanlah impian yang mudah bagi Dedi Kusnandar. Dia, yang lebih dikenal dengan panggilan Dado, telah melalui berbagai rintangan dan lika-liku sepanjang perjalanannya.

Langkah Awal dan Kejayaan Muda

Dado, lahir di Kabupaten Sumedang pada 23 Juli 1991, mulai mengukir namanya dalam dunia sepakbola sejak bermain untuk Sekolah Sepakbola UNI Bandung. Bakatnya yang mengagumkan membawa dia meraih kesempatan bergabung dengan PERSIB U-21 pada tahun 2005.

Pada tahun 2008, langkahnya membawa dia ke Pelita Jaya U-21. Di sana, kepiawaian Dado memperlihatkan cahaya gemilangnya. Dia tidak hanya menjadi pemain terbaik dalam Liga Super Indonesia U-21 2009, tetapi juga membawa Pelita Jaya meraih gelar juara.

Perjalanan Menuju Puncak

Prestasi tersebut membuka pintu bagi Dado untuk bergabung dengan skuat senior Pelita Jaya. Dia menjelajahi berbagai klub besar seperti Arema Indonesia dan Persebaya Surabaya, sebelum akhirnya menemukan tempatnya di PERSIB pada tahun 2015.

Selain gemerlapnya di klub, Dado juga mendapat kesempatan membela Tim Nasional Indonesia U-23 di Asian Games 2014, bahkan menjadi kapten. Namun, puncak pencapaiannya bersama PERSIB adalah ketika dia membawa tim kesayangannya meraih gelar juara dalam Piala Presiden 2015.

Tantangan dan Kesetiaan

Tahun 2016 membawa tantangan baru bagi Dado. Skorsing dari FIFA memaksanya meninggalkan kompetisi di tanah air, memilih berlabuh di Sabah FA Malaysia, bahkan menjadi kapten tim. Meskipun ditawari kontrak baru, hatinya tetap setia pada PERSIB.

Dikenal sebagai gelandang tengah yang dinamis, Dado bukan hanya mahir dalam memberikan umpan, tetapi juga lincah dalam menggagalkan serangan lawan. Keberaniannya itulah yang membuat setiap pelatih selalu mengandalkannya.

Ambisi Tak Tergoyahkan

Meski telah mengoleksi 67 caps bersama PERSIB, satu impian besar Dado belum terwujud: membawa PERSIB menjadi juara liga. Baginya, PERSIB adalah rumah, tempat di mana cintanya terpatri. Dan dia bertekad untuk terus berjuang demi mengangkat PERSIB ke puncak kejayaan.

“PERSIB adalah segalanya bagiku. Aku siap berjuang dan membawa mereka meraih kemenangan,” ucapnya penuh semangat.

Awal Mula: Langkah Pertama Dalam Dunia Sepak Bola

Jadi, ceritanya dimulai dari Dado, cowok asal Kabupaten Sumedang yang lahir pada tanggal 23 Juli 1991. Dia udah kepengin banget jadi pemain bola sejak kecil. Awalnya, dia gabung sama Sekolah Sepak Bola UNI Bandung. Udah dari situ bakatnya terlihat jelas banget.

Mengukir Nama: Perjalanan Menuju Liga Utama

Gak sia-sia lah, karena kemampuannya, Dado kemudian masuk PERSIB U-21 pada tahun 2005. Tapi perjuangan dia gak berhenti di situ. Dia jalanin juga waktu di Pelita Jaya U-21, di mana dia sukses jadi pemain terbaik Liga Super Indonesia U-21 tahun 2009.

Berkelana: Jelajah Klub Besar di Tanah Air

Setelah itu, dia jalan-jalan ke klub besar kayak Arema Indonesia dan Persebaya Surabaya. Nggak tanggung-tanggung, Dado udah jadi pemain senior di Pelita Jaya, dan sempet bawa timnya menang juara.

Kembali ke Akar: Pulang ke PERSIB

Tapi hatinya memang udah di PERSIB. Akhirnya tahun 2015, dia kembali ke klub asalnya itu. Sampai sekarang dia masih setia sama PERSIB.

Tantangan dan Kesetiaan: Skorsing dan Kembali

Tahun 2016, dia harus cabut ke Malaysia gara-gara skorsing dari FIFA. Di Sabah FA, dia nggak cuma jadi pemain biasa, tapi juga kapten tim. Meski ditawarin kontrak baru, Dado tetap setia sama PERSIB.

Ambisi Tak Terpadamkan: Mimpi Besar Bersama PERSIB

Walaupun udah punya banyak cap bersama PERSIB, satu mimpi besar Dado masih belum kesampaian: bawa PERSIB jadi juara liga. Dia punya tekad kuat buat ngangkat nama klub kesayangannya itu ke puncak.

Daftar Klub: Jejak Langkah Dado di Dunia Sepak Bola

Berikut adalah deretan klub-klub yang pernah dirasakan oleh Dado selama perjalanan karirnya yang panjang:

  1. PERSIB U-21: Awalnya, Dado ngerasain atmosfir bola profesional bersama tim junior PERSIB.
  2. Pelita Jaya U-21: Perjalanan karirnya berlanjut ke Pelita Jaya, di mana dia bikin namanya bersinar sebagai pemain terbaik Liga Super Indonesia U-21 tahun 2009.
  3. Pelita Jaya Senior: Dado gak cuma main di tim junior, tapi juga naik kasta ke tim senior Pelita Jaya. Disini dia jadi salah satu pemain penting dan membantu tim meraih gelar juara.
  4. Arema Indonesia: Dado juga sempet merasakan atmosfir Arema Indonesia sebelum akhirnya kembali ke Jawa Barat.
  5. Persebaya Surabaya: Nggak cuma Arema, Dado juga sempet gabung sama Persebaya Surabaya, klub besar dari kota pahlawan.
  6. PERSIB: Dan akhirnya, dia balik lagi ke rumahnya sendiri, PERSIB. Di sinilah hatinya bener-bener nyaman.
  7. Sabah FA: Tahun 2016, dia coba peruntungan di luar negeri dengan bergabung bersama Sabah FA di Malaysia. Dan tentu saja, dia juga sukses jadi kapten di sana.

Dado: Kehidupan di Luar Lapangan

Bukan cuma tentang bola, kehidupan Dado di luar lapangan juga punya cerita menarik, nih! Dado lahir dan dibesarkan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Dia punya hubungan yang erat sama keluarganya, terutama sama orangtuanya yang selalu dukung dia dari awal karirnya.

Hobi dan Kegemaran

Di luar lapangan, Dado adalah orang yang santai. Dia suka banget dengerin musik, terutama lagu-lagu yang bisa bikin hati adem. Selain itu, dia juga hobi jalan-jalan dan coba makanan-makanan baru. Katanya sih, itu cara dia buat refreshing dari kepenatan latihan dan pertandingan.

Lingkungan Sosial

Gak cuma tentang karir bola, Dado juga aktif dalam kegiatan sosial di komunitasnya. Dia sering ikutan acara amal dan berbagai kegiatan yang bermanfaat buat masyarakat sekitar.

Kehidupan Cinta

Soal cinta, Dado lebih suka jaga privasi. Meskipun dia punya banyak penggemar wanita, tapi dia lebih fokus sama karir dan keluarganya. Tapi siapa tahu, di luar sana ada yang bisa ngebuat hatinya berdetak lebih kencang, kan?

Jadi, itu dia sedikit cerita tentang kehidupan pribadi Dado di luar lapangan dan dalam lapangan. Meskipun sibuk dengan karirnya sebagai pemain bola, dia tetap punya kehidupan yang berwarna dan menyenangkan di luar stadion. Semoga informasinya menginspirasi!

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Profil Si Keren: Dedi Kusnandar (Dado Persib)  Si MidFielder Kece

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *