Maungpersib.com – Nama Wasit Ko Hyung-jin kembali menjadi perbincangan hangat di jagat sepak bola nasional. Wasit asal Korea Selatan itu di tunjuk Komite Wasit PSSI untuk memimpin laga paling panas pekan ke-17 Super League 2025/26, yakni duel klasik Persib Bandung vs Persija Jakarta.
Penugasan ini menuai sorotan tajam, terutama setelah insiden kontroversial yang terjadi pada pekan sebelumnya. Dalam laga PSIM Jogja vs Semen Padang, Ko Hyung-jin berada di tengah badai kritik akibat keputusan penalti yang di ambil saat sistem VAR dalam kondisi tidak aktif.
Bagi kamu yang mengikuti dinamika sepak bola nasional, penunjukan ini terasa janggal. Pasalnya, kontroversi tersebut belum benar-benar mereda, bahkan masih menyisakan luka bagi kubu Semen Padang dan pelatih mereka, Dejan Antonic.
Kronologi Laga PSIM Jogja vs Semen Padang yang Memicu Polemik
Kontroversi bermula pada pekan ke-16 Super League 2025/26. Semen Padang bertandang ke Stadion Sultan Agung (SSA) untuk menghadapi PSIM Jogja, Minggu (4/1/2026). Pertandingan berjalan ketat hingga akhirnya PSIM keluar sebagai pemenang dengan skor tipis 1-0. Namun, gol semata wayang itu lahir dari situasi yang memancing perdebatan panjang, tendangan penalti saat VAR tidak berfungsi.
Dalam pertandingan tersebut, sistem VAR di laporkan beberapa kali mengalami gangguan sinyal. Puncaknya terjadi pada menit ke-63 ketika pemain Semen Padang mengklaim adanya pelanggaran di kotak penalti PSIM. Ko Hyung-jin terlihat menunggu cukup lama untuk memastikan ketersediaan VAR, namun panggilan ke monitor tepi lapangan tak kunjung datang. Tanpa bantuan teknologi, wasit akhirnya mengambil keputusan sendiri. Ironisnya, keputusan penalti justru di berikan kepada tuan rumah PSIM di momen krusial laga.
Dejan Antonic Meluapkan Amarah: “Ini Contoh Buruk untuk Sepak Bola”
Usai pertandingan, Dejan Antonic tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Pelatih asal Serbia itu bahkan menghabiskan sekitar sepuluh menit pertama sesi konferensi pers hanya untuk mengkritik kepemimpinan wasit Ko Hyung-jin.
“Dia bikin keputusan sendiri. VAR tidak jalan, tapi dia tetap kasih penalti,” ujar Antonic dengan nada kesal. Menurut Antonic, masalah ini bukan sekadar merugikan Semen Padang, melainkan mencoreng kredibilitas kompetisi secara keseluruhan.
“Saya cuma mau bilang ke depannya, jangan seperti ini lagi. Bukan di PSIM, bukan di Semen Padang. Juga di Persib, di Persija. Jangan seperti ini. Ini contoh jelek untuk semua,” lanjutnya.
Pelatih berusia 55 tahun itu bahkan mengaku sakit hati atas keputusan yang menurutnya tidak adil. “Sakit hati. Sakit hati kita. Saya sakit hati hari ini,” kata Antonic dengan nada emosional.
Teknologi VAR Inactive Jadi Masalah Klasik di Stadion Terpencil
Kasus VAR inactive kembali membuka diskusi lama soal kesiapan infrastruktur sepak bola Indonesia. Stadion Sultan Agung di kenal sebagai salah satu venue yang masih kerap mengalami kendala sinyal, terutama untuk mendukung teknologi Video Assistant Referee.
Dalam situasi ideal, VAR seharusnya menjadi alat bantu untuk meminimalkan kesalahan wasit. Namun ketika teknologi itu tidak aktif, keputusan sepenuhnya kembali ke manusia, dengan segala keterbatasan sudut pandang dan tekanan pertandingan. Bagi Semen Padang, kondisi ini jelas merugikan. Mereka merasa kehilangan kesempatan mendapatkan keadilan hanya karena keterbatasan teknologi di lokasi pertandingan.
Baca juga: Isyarat CLBK Persib Bandung dan Kevin Ray Mendoza: Tukar Kiper di Bursa Transfer 2025/26?
PSSI Tetap Tunjuk Wasit Ko Hyung-jin untuk Laga Persib vs Persija
Alih-alih mengistirahatkan atau mengevaluasi Ko Hyung-jin, Komite Wasit PSSI justru memberikan tugas yang lebih besar. Wasit asal Korea Selatan itu di percaya memimpin laga sarat gengsi Persib Bandung vs Persija Jakarta, pertandingan yang kerap di sebut sebagai El Clasico-nya Indonesia. Keputusan ini membuat Dejan Antonic kembali angkat suara. Sebagai mantan pelatih Persib Bandung, ia mengaku heran dengan langkah federasi.
“Semoga dia tetap di Korea saja,” ucap Antonic dengan nada sinis.
Menurutnya, kesalahan wasit seharusnya mendapat konsekuensi tegas, bukan justru hadiah berupa laga terbesar. “Dia melakukan kesalahan, besok jalan-jalan ke Borobudur, terbang pulang lalu lupa. Kami di sini, pelatih dan pemain, yang harus merasakan dampaknya,” katanya.
Tekanan Berat Menanti Wasit Ko Hyung-jin di Laga Panas
Memimpin laga Persib vs Persija bukan perkara mudah, bahkan bagi wasit berpengalaman sekalipun. Atmosfer stadion, tensi suporter, hingga sorotan media akan berada di titik maksimal.
Dengan latar belakang kontroversi sebelumnya, tekanan terhadap Wasit Ko Hyung-jin di pastikan berlipat ganda. Satu keputusan kecil saja bisa memicu reaksi besar, baik dari pemain, pelatih, maupun publik.
Pengamat sepak bola nasional menilai PSSI seharusnya lebih sensitif dalam membaca situasi. Menugaskan wasit yang baru saja terlibat polemik besar ke laga paling krusial di nilai sebagai langkah berisiko tinggi.
Harapan Publik untuk Dapat Kepemimpinan Adil dan Transparan
Di tengah sorotan tajam, harapan publik sepak bola Indonesia sebenarnya sederhana. Kamu tentu ingin melihat pertandingan besar ditentukan oleh kualitas permainan, bukan oleh keputusan kontroversial wasit. Persib Bandung dan Persija Jakarta memiliki basis suporter yang fanatik. Kesalahan kecil bisa berdampak besar, tidak hanya di lapangan, tetapi juga di luar stadion.
Karena itu, Ko Hyung-jin dituntut untuk memimpin laga dengan penuh kehati-hatian, konsistensi, dan transparansi. Jika VAR kembali mengalami kendala, komunikasi yang jelas dan keputusan yang logis menjadi kunci untuk meredam potensi konflik.
Evaluasi Wasit dan VAR Jadi PR Besar PSSI
Kasus ini kembali menegaskan bahwa masalah wasit dan VAR belum sepenuhnya tuntas di sepak bola Indonesia. Evaluasi menyeluruh diperlukan, mulai dari penunjukan wasit asing, kesiapan infrastruktur stadion, hingga standar operasional penggunaan teknologi.
Tanpa perbaikan serius, polemik serupa berpotensi terus berulang. Dan pada akhirnya, yang dirugikan bukan hanya klub tertentu, tetapi kredibilitas kompetisi secara keseluruhan. Selain soal individu wasit, PSSI juga didesak untuk lebih transparan dalam menyampaikan hasil evaluasi kepemimpinan pertandingan.
Hingga kini, publik jarang mendapatkan penjelasan resmi mengenai sanksi, pembinaan ulang, atau standar penilaian terhadap wasit yang menuai kontroversi. Padahal, keterbukaan ini penting untuk membangun kembali kepercayaan kamu sebagai penikmat sepak bola nasional, sekaligus memberi pesan bahwa setiap kesalahan memiliki konsekuensi yang jelas.
Di sisi lain, masalah VAR tidak bisa terus dibebankan kepada keterbatasan teknis semata. PSSI perlu memastikan setiap stadion Super League memiliki kesiapan infrastruktur yang memadai sebelum laga digelar. Jika teknologi belum sepenuhnya siap, maka regulasi yang lebih tegas harus diterapkan, termasuk kemungkinan penyesuaian jadwal atau penunjukan venue alternatif. Tanpa langkah konkret, polemik VAR inactive hanya akan terus berulang dan mengorbankan keadilan kompetisi.
Laga Besar, Tanggung Jawab Besar
Penunjukan Wasit Ko Hyung-jin untuk memimpin laga Persib vs Persija menjadi ujian besar, baik bagi sang pengadil lapangan maupun bagi PSSI sebagai regulator. Jika laga berjalan lancar tanpa kontroversi, kepercayaan publik perlahan bisa dipulihkan. Namun jika kesalahan kembali terjadi, tekanan dan kritik dipastikan akan jauh lebih masif. Kini, semua mata tertuju pada satu hal, apakah sepak bola Indonesia mampu belajar dari kesalahan, atau justru mengulang cerita lama yang sama? Mari kita sama-sama lihat perkembangannya!

