Maungpersib.com – Persib Bandung harus menelan pil pahit saat melakoni laga tunda pekan ke-12 BRI Super League 2025/2026. Bermain di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Minggu (14/12/2025) siang WIB, Persib Bandung gagal membawa pulang poin usai takluk dua gol tanpa balas dari tuan rumah Malut United. Hasil ini bukan sekadar angka di papan skor, tapi juga cerita panjang tentang kelelahan, reuni emosional, dan momentum yang berpihak pada lawan.
Kekalahan ini membuat posisi Persib Bandung di papan atas klasemen semakin rawan. Di tengah ketatnya persaingan, setiap hasil punya dampak besar, dan laga di Ternate menjadi pengingat bahwa BRI Super League musim ini tak memberi ruang untuk lengah.
Malut United Menunjukkan Kepercayaan Diri Tinggi Sejak Kick-off
Sejak peluit awal dibunyikan, Malut United langsung menunjukkan niatnya untuk bermain agresif dan tanpa kompromi. Tim besutan Hendri Susilo tampil lepas, penuh percaya diri, berani menekan tinggi, dan tak ragu memenangkan duel di setiap lini.
Setiap bola diperebutkan seolah menjadi yang terakhir. Dukungan publik Ternate mengalir deras dari tribun, seperti angin laut yang mendorong layar kapal, terasa kuat, konstan, dan memberi energi tambahan bagi para pemain tuan rumah.
Persib Bandung sebenarnya berusaha mengambil kendali permainan melalui penguasaan bola di lini tengah. Thom Haye dan Marc Klok mencoba mengatur tempo, menenangkan permainan, serta mencari celah untuk membongkar pertahanan lawan.
Namun, intensitas Malut United yang tinggi membuat aliran bola Maung Bandung kerap terputus di tengah jalan. Tekanan cepat memaksa Persib bermain lebih terburu-buru dan kehilangan ritme. Beberapa kali Persib mencoba membangun serangan dari sisi sayap dengan memanfaatkan kecepatan pemain luar.
Namun, upaya tersebut sering kali mentok di pertahanan rapat tuan rumah yang tampil disiplin dan terorganisir. Setiap crossing berhasil dipatahkan, setiap ruang ditutup rapat, membuat Persib kesulitan menciptakan peluang bersih sepanjang pertandingan.
Gol Pertama yang Mengubah Alur Permainan
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-40. Berawal dari situasi bola mati, Igor Inocencio berhasil menanduk bola ke arah gawang Persib Bandung. Tandukan itu sejatinya tidak terlalu keras, namun arah bola yang sulit dijangkau membuat Teja Paku Alam gagal mengantisipasi dengan sempurna.
Gol tersebut menjadi titik balik pertandingan. Malut United kian percaya diri, sementara Persib Bandung terlihat sedikit goyah. Seperti retakan kecil di bendungan, tekanan demi tekanan mulai terasa di lini belakang tim tamu.
Pukulan Mental di Pengujung Babak Pertama
Belum sempat Persib Bandung menata ulang permainan, Malut United kembali menghantam. Memasuki menit ketiga masa injury time babak pertama (45+3’), Ciro Alves memanfaatkan kemelut di kotak penalti. Dengan insting tajam, ia menyambar bola dan mengubah skor menjadi 2-0.
Gol ini terasa lebih dari sekadar tambahan angka. Ciro Alves, yang pernah menjadi bagian dari keluarga besar Persib Bandung, menyambut gol tersebut dengan gestur emosional. Ia tertunduk, menutupi wajah, seolah menyimpan perasaan campur aduk antara profesionalisme dan nostalgia. Stadion sejenak sunyi, lalu bergemuruh lagi, emosi bercampur jadi satu.
Baca juga: Uilliam Barros, Pahlawan Kemenangan Tipis Lawan Persebaya di Super League 2025/2026
Babak Kedua, Persib Bandung Mencoba Bangkit
Memasuki babak kedua, Persib Bandung berusaha meningkatkan tempo. Beberapa pergantian posisi dan instruksi dari bangku cadangan dilakukan untuk mencari celah. Thom Haye dan Marc Klok mencoba mengatur ritme, sementara lini depan dipacu agar lebih agresif.
Namun, Malut United bermain disiplin. Mereka tak terburu-buru menyerang, memilih menunggu dan memanfaatkan kesalahan. Persib Bandung memang sempat menciptakan beberapa peluang, tetapi penyelesaian akhir belum cukup tajam. Pertandingan berakhir tanpa perubahan skor, Malut United tetap unggul 2-0.
Panggung Reuni Penuh Cerita
Pertandingan ini terasa istimewa karena sarat nuansa reuni. Di skuad Malut United, terdapat enam mantan pemain Persib Bandung yaitu Gustavo Franca, Ciro Alves, Tyronne Del Pino, David Da Silva, Frets Butuan, dan Dimas Drajad. Keenamnya bukan sekadar pengisi bangku cadangan, melainkan aktor utama di lapangan.
Pelatih Hendri Susilo memberi kepercayaan penuh kepada mereka. Hasilnya terlihat jelas, performa solid, koordinasi rapi, dan motivasi ekstra seolah ingin membuktikan sesuatu. Bagi para mantan, laga ini seperti membuka kembali lembaran lama, tapi dengan seragam berbeda dan tujuan baru.
Faktor Kelelahan dan Jadwal Padat
Tak bisa dipungkiri, kondisi fisik Persib Bandung menjadi sorotan utama dalam laga ini. Jadwal pertandingan yang padat, perjalanan jauh lintas pulau, serta waktu pemulihan yang sangat terbatas membuat performa tim tidak berada di titik ideal.
Ritme permainan yang biasanya agresif dan rapi terlihat menurun, terutama ketika intensitas laga mulai meningkat. Beberapa pemain tampak kehilangan tenaga di momen-momen krusial, khususnya saat harus melakukan transisi cepat dari bertahan ke menyerang atau sebaliknya.
Jarak antarlini kerap melebar, duel-duel penting kalah sepersekian detik, dan konsentrasi pun mulai menurun seiring berjalannya waktu. Situasi ini memberi celah bagi lawan untuk mengambil inisiatif dan menekan lebih dalam.
BRI Super League musim ini memang menuntut kedalaman skuad yang mumpuni serta manajemen stamina yang matang. Tanpa rotasi dan pemulihan yang tepat, tim akan sangat rentan mengalami penurunan performa.
Laga di Ternate menjadi contoh nyata bagaimana faktor nonteknis mulai dari jadwal, perjalanan, hingga kondisi fisik dapat ikut menentukan hasil akhir sebuah pertandingan, bahkan sebelum taktik benar-benar berbicara.
Susunan Pemain, Dua Pendekatan Berbeda
Malut United (4-3-3)
- Kiper: Alan Jose
- Belakang: Nilson Jr, Gustavo Franca, Igor Inocencio, Abduh Lestaluhu
- Tengah: Wbeymar Angulo, Manahati Lestusen, Taufik Rustam
- Depan: Ciro Alves, David Da Silva, Yance Sayuri
- Pelatih: Hendri Susilo
Persib Bandung (4-3-3)
- Kiper: Teja Paku Alam
- Belakang: Frans Putros, Patricio Matricardi, Julio Cesar, Eliano Reijnders
- Tengah: Thom Haye, Marc Klok, Beckham Putra
- Depan: Berguinho, Andrew Jung, Saddil Ramdani
- Pelatih: Bojan Hodak
Kedua tim sama-sama memakai formasi serupa, namun pendekatan berbeda. Malut United bermain lebih direct dan efektif, sementara Persib Bandung mencoba membangun permainan lebih sabar namun kerap terhenti di sepertiga akhir.
Dampak Kekalahan bagi Persib Bandung
Kekalahan ini membuat Persib Bandung gagal menjaga momentum di papan atas klasemen. Meski masih berada di posisi kompetitif, jarak dengan rival terdekat menjadi perhatian serius. Setiap poin kini terasa mahal, terutama menjelang rangkaian laga penting berikutnya. Namun, musim masih panjang. Kekalahan di Ternate bisa menjadi alarm, bukan akhir cerita. Dalam sepak bola, jatuh sering kali menjadi bagian dari proses untuk bangkit lebih kuat.
Penutup
Laga Malut United kontra Persib Bandung di Stadion Gelora Kie Raha bukan sekadar pertandingan tunda. Ia adalah potret kerasnya persaingan BRI Super League 2025/2026, tempat emosi, stamina, dan momentum yang terjalin erat.
Bagi Persib Bandung, kekalahan ini menyisakan pekerjaan rumah besar. Evaluasi harus dilakukan, fokus harus dikembalikan. Karena di balik setiap hasil pahit, selalu ada peluang untuk menata langkah dan menyalakan kembali bara semangat Maung Bandung.

