maungpersib.com – Kemenangan Persib Bandung atas Selangor FC di ajang AFC Champions League Two 2025–2026 menjadi salah satu momen paling dramatis dalam perjalanan Maung Bandung musim ini. Di balik kemenangan 3-2 yang penuh perjuangan itu, tersimpan kisah inspiratif tentang semangat juang, kepemimpinan, dan pesan sederhana yang mengguncang ruang ganti: “Jangan bikin malu.”
Pesan itu datang dari pelatih kepala, Bojan Hodak, dan disampaikan tepat di saat genting, ketika Persib tertinggal 0-2 di babak pertama. Kiper utama Persib, Teja Paku Alam, kemudian membocorkan bagaimana kalimat pendek itu mengubah mental seluruh pemain.
Awal yang Buruk di Petaling Jaya
Laga di Stadion MBPJ Petaling Jaya, Malaysia, Kamis 6 November 2025, sejatinya diharapkan menjadi momentum bagi Persib untuk memperkokoh posisi mereka di klasemen Grup G. Namun, kenyataan di lapangan tidak seindah rencana. Baru 15 menit pertandingan berjalan, gawang Teja Paku Alam sudah dua kali bergetar.
Serangan cepat dan pressing tinggi dari Selangor FC membuat lini pertahanan Persib goyah. Dua gol cepat itu seolah menjadi tamparan keras bagi skuad Maung Bandung yang datang dengan kepercayaan diri tinggi. Suporter Persib yang hadir di stadion, termasuk para Bobotoh yang setia mendukung tim kebanggaannya dari tribun, terlihat terdiam. Sementara di sisi lain, ekspresi tegang tampak jelas di wajah Bojan Hodak.
Teja Paku Alam, “Coach Bicara, Jangan Bikin Malu”
Memasuki jeda babak pertama, ruang ganti Persib terasa senyap. Para pemain menunduk, sebagian masih terlihat kesal pada diri sendiri. Namun, situasi itu berubah ketika Bojan Hodak akhirnya angkat bicara.
Dalam wawancara bersama kanal YouTube Harimau Malaya, Teja Paku Alam mengungkapkan isi pesan sang pelatih di ruang ganti.
“Coach bicara pada kami, ‘Tidak apa-apa kalah, tetapi jangan bikin malu,’” ujar Teja. Kalimat sederhana itu rupanya menjadi cambuk semangat bagi seluruh pemain Persib. Bagi Teja, pesan itu bukan hanya tentang hasil pertandingan, tetapi juga tentang harga diri dan kebanggaan membawa nama besar Persib Bandung di level Asia.
“Coach tidak marah berlebihan, tapi nadanya tegas. Kami semua sadar, kami bukan hanya bermain untuk diri sendiri, tapi juga untuk klub besar, untuk kota Bandung, dan untuk Bobotoh yang selalu percaya,” tambah Teja.
Baca juga: Thom Haye Nikmati Liburan Singkat Usai Lawan Selangor FC
Bojan Hodak dan Kepemimpinan yang Membumi
Bojan Hodak dikenal sebagai pelatih yang jarang meledak-ledak di pinggir lapangan. Namun di ruang ganti, pria asal Kroasia itu mampu menyentuh sisi emosional pemainnya. Ia tidak butuh banyak kata, cukup satu pesan bermakna.
Kata “Jangan bikin malu” menjadi simbol tanggung jawab. Bagi pemain seperti Teja, Thom Haye, hingga Andrew Jung, pesan itu mengingatkan mereka bahwa kekalahan bukanlah aib — asal disertai perjuangan yang maksimal.
Hodak juga dikenal piawai membangun mental tim. Sebelum pertandingan, ia selalu menekankan pentingnya disiplin, komunikasi, dan rasa percaya antar pemain. Namun kali ini, ketika keadaan berbalik, pendekatan emosional menjadi senjata ampuh yang mengubah segalanya.
Kebangkitan di Babak Kedua
Usai turun minum, aura tim Persib berubah total. Tempo permainan meningkat, serangan lebih terarah, dan determinasi terlihat jelas di setiap sentuhan bola. Di menit ke-49, Andrew Jung membuka asa Persib lewat gol cepat hasil umpan manis dari David da Silva. Gol itu menghidupkan kembali semangat Maung Bandung, sekaligus membuat para pemain Selangor mulai kehilangan kendali.
Permainan kemudian menjadi semakin intens. Thom Haye tampil sebagai motor serangan, sementara Teja Paku Alam di bawah mistar menunjukkan ketenangan luar biasa dengan beberapa penyelamatan penting.
Puncaknya datang di menit ke-81, ketika Adam Alis berhasil mencetak gol penyeimbang. Dan pada detik-detik akhir injury time, gelandang kreatif itu kembali jadi pahlawan. Di menit 90+7, tendangan kerasnya tak mampu dibendung kiper Selangor, menutup laga dengan skor 3-2 untuk kemenangan Persib Bandung.
Adam Alis, Dari Pemain Biasa Menjadi Pahlawan
Dua gol dari Adam Alis menjadi kisah tersendiri. Pemain yang sempat diragukan karena inkonsistensi di awal musim itu membuktikan bahwa dirinya masih punya kualitas dan mental juara. Dalam wawancara seusai pertandingan, Adam mengaku kemenangan itu bukan tentang dirinya, melainkan tentang tim.
“Kami tidak ingin mengecewakan pelatih dan Bobotoh. Saat tertinggal dua gol, kami hanya berpikir: ini belum selesai. Kata coach di ruang ganti benar-benar membakar kami,” ujar Adam Alis. Gol di menit akhir menjadi simbol tekad tak kenal menyerah. Adam mempersembahkan kemenangan tersebut untuk keluarga, rekan setim, dan seluruh Bobotoh yang tak berhenti bernyanyi meski sempat tertinggal.
Teja dan Peran Vital di Balik Kemenangan
Meski kebobolan dua gol di awal laga, Teja Paku Alam tetap tampil tenang di babak kedua. Beberapa penyelamatan penting, terutama pada menit-menit akhir, memastikan Persib tetap unggul hingga peluit panjang berbunyi.
Teja juga menegaskan bahwa kemenangan ini tidak lepas dari semangat kebersamaan di dalam tim. “Kami semua bangkit bersama. Dari pemain belakang, tengah, sampai depan, semua bekerja keras. Ini kemenangan untuk tim, bukan individu,” ujarnya. Bagi Teja, kalimat “jangan bikin malu” bukan hanya motivasi sesaat, tapi juga pengingat agar setiap pemain menjaga kehormatan tim di setiap pertandingan, baik menang maupun kalah.
Mental Juara dan Tradisi Persib yang Tak Pernah Padam
Persib Bandung dikenal sebagai klub besar dengan sejarah panjang dan basis suporter yang luar biasa. Setiap kali mengenakan jersey biru kebanggaan itu, para pemain memikul tanggung jawab besar — bukan hanya untuk menang, tapi untuk menjaga identitas klub yang sarat nilai perjuangan.
Bojan Hodak tampaknya memahami betul hal itu. Sejak awal kedatangannya, ia menanamkan budaya profesionalisme, kerja keras, dan rasa hormat pada lambang Persib.
Kemenangan atas Selangor bukan sekadar tiga poin, melainkan bukti bahwa tim ini punya karakter kuat. Mampu bangkit dari keterpurukan adalah tanda nyata bahwa mental juara sedang tumbuh di ruang ganti Persib.
Baca juga: Persib Bandung Menang Lawan Klub Elite Australia, Bobotoh Optimis Hattrick Juara Super League 2025
Bobotoh, Nyawa di Balik Semangat Persib
Tak bisa dilepaskan, peran Bobotoh juga sangat besar dalam momen ini. Dukungan tanpa henti dari ribuan suporter yang hadir di stadion dan yang menonton dari tanah air menjadi energi tambahan bagi para pemain.
Mereka tidak sekadar mendukung, tetapi menjadi bagian dari identitas tim. Sorakan “PERSIB, PERSIB, PERSIB!” di tengah pertandingan menjadi nyala api yang menolak padam, bahkan ketika tim sedang tertinggal. Bagi Teja dan rekan-rekannya, Bobotoh bukan hanya penonton, tetapi juga motivasi utama. “Kami tahu banyak Bobotoh datang jauh-jauh ke Malaysia. Kami tidak mau bikin mereka kecewa,” ujar Teja.
Makna “Jangan Bikin Malu” untuk Persib Bandung
Kalimat “jangan bikin malu” mungkin terdengar sederhana, tapi di balik itu tersimpan filosofi besar tentang tanggung jawab, kebanggaan, dan integritas. Dalam sepak bola, tidak ada yang lebih berharga daripada bermain dengan sepenuh hati dan menghormati simbol di dada.
Pesan Bojan Hodak menjadi refleksi bahwa kemenangan tidak hanya diukur dari skor akhir, melainkan dari bagaimana tim bertarung hingga detik terakhir. Kemenangan atas Selangor FC akhirnya menjadi kisah yang akan selalu dikenang: dari ruang ganti yang sunyi, lahirlah kebangkitan yang membanggakan.
Persib Menang dengan Harga Diri
Kisah Teja Paku Alam dan pesan singkat Bojan Hodak adalah pengingat bahwa motivasi sejati tidak selalu datang dari taktik atau strategi rumit, tetapi dari sentuhan emosional dan rasa tanggung jawab terhadap kebanggaan.
Persib Bandung telah menunjukkan bahwa semangat pantang menyerah adalah DNA sejati mereka. Dari tertinggal dua gol hingga berbalik menang 3-2, semuanya berawal dari satu kalimat yang kini jadi legenda kecil di balik kemenangan besar itu, “Tidak apa-apa kalah, tapi jangan bikin malu.” Dan benar, malam itu di Petaling Jaya, Persib tidak hanya memenangkan pertandingan mereka memenangkan harga diri.

