Sejarah Awal Permusuhan Viking Simaung Persib dan Jakmania Persija

Maungpersib.com – Permusuhan antara Jakmania dan suporter simaung Persib, yang terdiri dari Bobotoh dan Viking, ternyata sudah dimulai sejak tahun 2000 atau Liga Indonesia ke-6. Eko Maung dari situs simamaung.com mengisahkan dengan detail bagaimana permusuhan ini bermula, sebuah cerita yang penuh dengan dinamika.

Awal Mula Perseteruan Simaung Persib

Eko Maung menguraikan dengan lengkap bagaimana posisi perseteruan antara para suporter simaung Persib dan Jakmania. Awalnya, Jakmania sama sekali tak dipandang. Namun, kehadiran Gugun Gondrong dan Sutiyoso kemudian membangun fanatisme Jakmania dalam sisi yang positif.

Dalam tulisannya yang berjudul “Arena Bobotoh: Meluruskan Kekeliruan Sejarah (Viking vs Jakmania)”, Eko Maung mencoba meluruskan berbagai kesalahpahaman yang ada.

Kesalahpahaman yang Makin Meluas

Di era teknologi informasi ini, di mana semua orang begitu mudah mendapatkan informasi terutama melalui media sosial dan online, sering kali kesalahan informasi menjadi semakin meluas. Maka sebelum membahas perseteruan antara kedua kelompok suporter ini, ada baiknya kita meluruskan beberapa persepsi yang keliru.

Sejarah Klub yang Keliru

Pertama, ada kesalahpahaman mengenai sejarah klub itu sendiri. Banyak media baru yang menganggap bahwa laga PERSIB vs Persija adalah laga klasik yang selalu seru baik di dalam maupun luar lapangan, melibatkan suporter sejak zaman perserikatan.

Namun kenyataannya, laga klasik yang sebenarnya di era perserikatan adalah duel antara PERSIB dengan PSMS Medan (Ayam Kinantan) dan PSM Makasar (Ayam Jantan Dari Timur), serta Persebaya Surabaya.

Bandung, Medan, Surabaya, dan Makasar adalah kota-kota dengan tradisi sepakbola yang kuat, mencakup tiga generasi: kakek, ayah, dan anak. Ini berbeda dengan kota-kota lain yang suporter sepakbolanya identik dengan kelompok yang muncul setelah era perserikatan, termasuk Jakmania.

Fakta Sejarah yang Diabaikan

Salah satu kesalahan besar adalah menganggap laga Persija vs PERSIB sebagai laga klasik yang melibatkan suporter kedua tim selama puluhan tahun. Bahkan ada media yang menyesatkan dengan menyatakan bahwa kandang Persija di era perserikatan adalah Stadion Senayan, padahal sebenarnya adalah Stadion Menteng yang kini sudah di gusur.

Mitos Jumlah Pendukung

Ada juga pandangan yang salah bahwa Persija selalu memiliki jumlah pendukung yang besar. Faktanya, sebelum lahirnya Jakmania, penonton laga Persija hanyalah simpatisan dan keluarga pengurus yang jumlahnya tidak seberapa. Memang benar bahwa Persija pernah menjadi tim bagus di era perserikatan, namun prestasi tersebut tidak berbanding lurus dengan jumlah massa pendukung mereka.

Pelita Jaya Jakarta, Tim yang Layak Diperhitungkan di Era Awal Liga Indonesia

Para bobotoh muda perlu tahu bahwa saat berbicara tentang tim Jakarta yang layak di perhitungkan di era awal Liga Indonesia, nama Pelita Jaya Jakarta tak bisa di abaikan.

Kelompok Pendukung The Commandos

Pelita Jaya memiliki kelompok pendukung bernama The Commandos, yang identik dengan anak-anak kaya dan cewek-cewek cantik. Meski begitu, jumlah mereka sangat sedikit. Bahkan, stadion mini mereka, Stadion Lebak Bulus, jarang penuh ketika Pelita Jaya bermain.

Persija di Era Awal Liga Indonesia

Kembali ke Persija, di awal era Liga Indonesia (sekitar tahun 1994-1995), Persija adalah tim yang tak di perhitungkan. Minim dana, pemain-pemain biasa, dan Stadion Menteng yang kurang perawatan serta selalu sepi. Satu hal yang perlu di ingat, warna khas tim Persija adalah merah, bukan oranye seperti sekarang.

Transformasi Tahun 1997

Semua berubah sekitar tahun 1997. Gugun Gondrong menjadi aktor utama perubahan ini. Dalam sebuah memoar yang saya ingat, dia pernah mengungkapkan bahwa dia cukup gerah dengan “ke-Jakartaan” kota Jakarta yang semakin tersingkir oleh pendatang. Salah satu parameternya adalah dari kehadiran penonton sepakbola saat Persija bermain.

Pengaruh Gugun Gondrong

Jika Persija menjamu PSMS, Stadion Menteng pasti dipenuhi oleh orang Batak. Jika menjamu PSIS atau Persebaya, orang Jawa yang mendominasi. Begitupun saat meladeni PERSIB, orang Sunda yang memenuhi Menteng. Gugun mulai menyentuh sisi emosional orang-orang yang sehari-hari hidup di Jakarta, mengajak mereka untuk mendukung Persija.

Peran Sutiyoso dalam Membangun Fanatisme

Upaya ini didukung oleh Sutiyoso yang membutuhkan “kelompok sayap” untuk menopang kekuatan politisnya. Dua upaya yang menonjol adalah menggandeng Jakmania dan FBR. Saya tak tahu banyak tentang FBR, namun untuk Jakmania, saya tahu mereka dirangsang dengan tiket gratis bahkan di sediakan hingga tingkat kelurahan.

Fanatisme yang Direkayasa

Upaya membangun fanatisme ini juga di dukung dengan angkutan umum gratis seperti metromini yang menjemput dan mengantar mereka ke stadion. Sungguh berbeda dengan fanatisme alami ala bobotoh yang harus berjuang mencari tiket mahal dan susah payah mencapai lokasi pertandingan.

Era Baru Persija dan Suporternya

Pasca sentuhan Sutiyoso, Persija dan suporternya bertransformasi memasuki era baru yang membuat mereka di perhitungkan.

Pengaruh Bandung dalam Pembangunan Suporter Jakmania

Berbicara mengenai pembangunan suporter, Jakmania memerlukan rujukan. Konon, kota Bandunglah yang mereka jadikan rujukan. Tak heran jika pengurus Jakmania awalnya sering berkunjung ke markas Viking di bilangan Gurame, Bandung, untuk “belajar”. Pengurus kedua kelompok suporter antara simaung Persib dan Jakmania ini sebenarnya saling mengenal dan jauh dari bayangan keadaan saat ini.

Bentrokan Pertama Suporter PERSIB dengan Jakmania

Saya tak ingin terlalu banyak menulis tentang ini karena saya hanya mendengar sepotong-sepotong dan khawatir tidak valid sepenuhnya. Oleh karena itu, saya ingin langsung beranjak ke salah satu momentum yang saya alami sendiri, yaitu bentrokan pertama suporter PERSIB dengan Jakmania.

Gesekan Pertama di Siliwangi Bandung

Gesekan pertama antara suporter Persib dan Persija terjadi sekitar tahun 1999 di Stadion Siliwangi, Bandung. Pada saat itu, Persija yang mendapatkan suntikan dana besar dari Sutiyoso, hadir dengan deretan pemain terbaik di masanya seperti Luciano Leandro, Dedi Umarella, dan lainnya. Sementara itu, Persib bermaterikan pemain-pemain veteran dan lokal yang namanya kurang mentereng.

Animo Bobotoh yang Luar Biasa

Animo bobotoh dalam laga ini luar biasa. Saya masih ingat betapa sulitnya mendapatkan tiket untuk tribun timur. Dulu, Viking menguasai tribun selatan, sementara elemen-elemen bobotoh yang menjadi cikal bakal BOMBER masih tersebar seperti stone lovers, suporter forever, BFT, Provost PERSIB, Vorib, robokop, Casper, tiger fortune, dan lain-lain.

Puluhan ribu bobotoh masih tertahan di luar stadion, tak dapat masuk, sementara suasana di dalam stadion semakin tak nyaman karena penonton berdesakan.

Kedatangan Jakmania

Tiba-tiba, banyak bus mendekat ke area stadion. Mereka adalah bus-bus yang membawa Jakmania. Kalau tidak salah, ada sekitar 7 bus. Cukup banyak karena mereka mendapat dukungan dana dari Sutiyoso.

Gesekan Tak Terhindarkan

Terbayang apa yang terjadi. Saat “penduduk asli” yaitu suporter tuan rumah pun emosi karena tidak dapat masuk stadion, tiba-tiba datanglah “tamu tak diundang” dari ibukota. Dengan gaya yang mungkin dianggap kurang berkenan, terjadilah gesekan itu. Saya kurang tahu persisnya, namun beberapa bus memutar ke arah jalan Menado dengan kaca-kaca pecah dan terdengar kata-kata makian.

Kericuhan dan Kekalahan PERSIB

Alkisah, PERSIB kalah hari itu. Kericuhan terjadi di dalam dan di luar stadion. Kisah ini menjadi salah satu kenangan pahit dalam sejarah rivalitas kedua tim besar ini. Meluruskan sejarah dan fakta adalah penting agar tidak ada kesalahpahaman yang terus berkembang.

Dengan pemahaman yang benar, kita bisa melihat bahwa permusuhan antara suporter simaung Persib dab Jakmania ini tidak sesederhana yang sering di beritakan. Kebenaran sejarah harus di jaga agar tidak terjadi penyimpangan informasi yang dapat merugikan banyak pihak.


Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *